mencoba sedikit melankolis…. katakan saja aku bukan orang yang tahan kritik..tapi saya ..pada dasarnya…cenderung orang yang berwajah, ah-siapa-sih-lo-sok-sokan-nasehetin-ane-plis-deeee…….
okaiy, ane emang egois, karena orientasi ane ternyata selama ini lebih ke “aku”. Apalagi kalo udah nyangkut masalah hati. Kalo iya-ya iya…,kalo enggak ya ogahnya naujubillah….
Jujur, saat ini ane sedang bergulat dengan perasaan ane yang kembang kepis kaya idung sapi. Ane harus mempunyai sebuah pandangan yang berarti mengenai “nilai kehidupan” yang ane miliki saat ini. Hidup yang buwat ane gag gampang dijalani. Namun, cukup menyenangkan untuk dilalui.
Ini semuwa selalu berawal dari “message”.
Ane gag paham kenapa ane bisa dua kali “stuck” pada hubungan “macam” gini.
Ane ogah mengakui kalo diri ane ini keledai yang nyatanya masih bisa tertumbuk pada tiang listrik. Tapi Sodara, ini bukan tentang keledai. Bukan… Ini tentang ane yang gundah gulana berhadapan dengan kompleksitas kehidupan.
Dilema pertama.
Sebagai seorang Duta Wisata, ane sama sekali gag paham. Ternyata, kami tidak dihimpun dalam suatu manajemen. So, segala kegiatan, bisa aja nongol mak-bedunduk begitu saja, dan mempunyai potensi merusak schedule yang udah ane bikin secara sangat hati-hati pada awal semester ini. Disaster, Sodara. jadwal mendadak bisa menjadi hal yang “pait”, karena ane, ujung2nya, pasti harus memilih. Ane kurang suka dihadapkan pada pilihan2. ane hidup secara ter-organized. Rapi. Jali. Kalaupun ada jadwal melenceng, itu tidak akan terjadi secara mendadak, tapi bisa diantisipasi pada saat yang telah ditentukan. Ane sedikit mengalami kebingungan di sini. JAdi daripada ane bingung lebih lanjut, ane mo ninggalin dulu masalah ini untuk sementara. Dan akan work out, total, pada kesempatan yang tepat.
Dilema kedua.
Soal Seminar. Output dari seminar class adalah propsal skripsi. Ane sih yakin bakal lancar jaya kaya bis Patas. akan tetapi…di saat-saaat “gelap-gulita”, ane merasa membutuhkan seseorang yang nyata untuk menguatkan ane. Mungkin aneh. Ada orangtua, kenapa mesti repot?? Ada temen2 kenapa mesti repot?? I need something different, guys. I’m stuck.
Dilema Ketiga.
Ane sibuk “menghindar dari diri sendiri” kalau ane ternyata resmi “seekeor keledai”, yang gag bisa bedain mana tiang listrik, mana Channing Tatum. Jadi, Tiang Listrik terlihat seperti Charming Channing, dan ane dengan penuh kecerobohan menubruknya lagi dan lagi. Kali ini, ane bersikeras kalau itu bukan salah ane. Bukan salah ane kalau tiba-tiba, perasaan ane menjadi lebih nyaman ketika “makluk itu” sebut saja dia si Extra-Terestrial-thing, disingkat ET, mengatakan The Most Magic Word Ever, Love. Ane capek, ane capek membayangkan semuwanya. Ane ingin menemuinya dan mendengarnya langsung. di kuping ane. Apa mungkin ane jatuh cintrong lageeee….Dengan motif “pembantaian” yang sama?? O….for God’s sake, pleaseeeee……….
“i’ll be dreamin bout u while i’m not with u
oh yes,pls take care n may Allah protect u..”
Those words above will totally kill me…. Let me breath for second.
Ane kadang bingung dengan kondisi ini. Ane dikasi tau si ET kalo dianya lagi kangen, dianya cintrong, dianya ini, dianya itu, dianya..AAAAAAAARGGGGGGGGGGGHHHHHHHHH……ane pusing……
Ane lelah….Tapi, ane mencoba bertahan. Ane mencoba kuat pada dilema ketiga ini. Karena kelak , ET itu akan “lepas dari kutukan dan menjadi manusia seutuhnya”.
Sembari saat itu datang, lebih baik ane mengisi waktu untuk melaksanakan eksekusi pada dilem apertama dan kedua.


Komentar Terakhir